Kamis, 12 Oktober 2017

zat aditif - pewarna


1. Zat Pewarna
Adalah bahan yang dapat memperbaiki atau memberi warna pada makanan agar menarik.
Zat pewarna dibedakan atas zat pewarna alami dan zat pewarna buatan.
a. Zat Pewarna Alami
Contoh :
- Daun pandan dan suji pemberi warna hijau
- Kunyit pemberi warna kuning
- Coklat pemberi warna coklat
- Wortel pemberi warna kuning merah
- Karamel pemberi warna hitam coklat
b. Zat Pewarna Buatan
Contoh:
- Eritrosin pemberi warna merah
Misal: untuk minuman ringan dan makanan cair
- Hijau FCF
Misal: untuk pemberi warna es krim, buah pir kalengan, jem, jelly, saus apel dan udang kalengan.
- Kuning FCF pemberi warna kuning
Misal: untuk es krim, yoghurt, jem, jelly.
Hasil penelitian FAO/WHO tidak menetapkan ambang batas pemakaian zat warna tetapi ambang batas konsumsi perhari yang diperkenankan yang dikenal dengan singkatan ADI (Acceptable Daily Intake). Penetapan itu dilakukan setelah terjadi kasus keracunan zat pewarna pada kembang gula dan “popcorn” dengan dosis yang terlalu tinggi. Akibat keracunan itu, anak menderita diare.

Hasil gambar untuk zat aditif pewarna

https://www.google.co.id/search?q=zat+aditif+pewarna&oq=zat+aditif+pewarna&aqs=chrome..69i57j0l5.4343j0j8&sourceid=chrome&ie=UTF-8

Selasa, 10 Oktober 2017

konstipasi


Konstipasi: Penyebab dan Cara Penanganan yang Tepat

Frekuensi buang air besar pada masing-masing individu sehat mungkin bervariasi, normalnya berkisar tiga kali sehari sampai dengan tiga kali seminggu. Adanya penurunan abnormal pada frekuensi buang air besar dengan disertai/tanpa rasa nyeri selama mengejan disebut sebagai konstipasi atau sembelit. Feses dengan konsistensi keras dapat menimbulkan kesulitan defekasi (buang air besar).

Penyebab terjadinya konstipasi

Ketika makanan masuk ke dalam saluran pencernaan, tubuh akan mengambil nutrisi atau zat-zat gizi dan air dari makanan tersebut. Sisa atau ampas dari makanan tersebut selanjutnya dikeluarkan melalui usus halus lewat kontraksi usus.
Kurangnya mengkonsumsi cairan, kurangnya beraktivitas, tidak cukupnya makan makanan berserat, konsumsi obat-obatan tertentu, tidak menyegerakan ke kamar mandi saat ingin buang air besar dan secara teratur menggunakan laksatif atau obat pencahar akan dapat mengakibatkan terjadinya gangguan pencernaan yang pada akhirnya menyebabkan timbulnya konstipasi.

Cara penanganan konstipasi

Makan makanan dengan cukup kandungan serat dan minum cukup banyak cairan adalah kunci dalam penanganan konstipasi. Dengan minum cukup air dan makanan berserat akan membantu pergerakan feses dan membuat feses menjadi lebih lunak. Peningkatan aktifitas fisik juga akan membantu dalam mengatasi konstipasi.

Beberapa tips pencegahan konstipasi

  • Jangan mengabaikan atau menahan keinginan anda untuk buang air besar.
  • Makanlah lebih banyak makanan berserat seperti sayur-sayuran dan buah-buahan.
  • Minumlah cukup banyak air, kira-kira 8 gelas setiap hari.
  • Jangan mengkonsumsi obat pencahar (laksatif) terlalu sering. Penggunaan laksatif secara berlebihan bisa merusak tinja dan bisa membuat konstipasi yang terjadi bertambah parah.
  • Sering berolahraga atau beraktifitas.
  • Batasi makanan yang tinggi lemak dan gula (seperti makanan yang manis-manis, keju, dan makanan olahan). Makanan-makanan tersebut dapat menimbulkan konstipasi.

Hindari obat pencahar

Laksatif (obat pencahar) seringkali dianggap sebagai solusi termudah untuk mengatasi konstipasi, tetapi jika tidak digunakan secara benar, obat ini sebenarnya dapat menimbulkan masalah lain yang lebih banyak.
Laksatif bekerja melalui banyak cara dan masing-masing jenis menimbulkan masalah tersendiri. Beberapa diantaranya bersifat sebagai lubrikan (pelumas), sedangkan lainnya dapat melunakkan konsistensi feses, menyerap air lebih banyak pada usus besar, dan ada juga yang membentuk massa. Salah satu bahaya dari laksatif yaitu dapat menimbulkan ketergantungan pada penggunanya. Bahkan beberapa jenis laksatif diketahui dapat merusak sel-sel saraf pada kolon (usus besar) sampai akhirnya membuat individu tersebut tidak dapat buang air besar lagi. Laksatif dapat menghambat absorpsi atau menghilangkan efikasi obat. Laksatif berbahan dasar minyak mineral dapat mencegah absorpsi vitamin A, D, E, dan K. Jenis laksatif lainnya dapat merusak dinding usus. Karena itu penggunaan laksatif sebaiknya dihindari dan hanya digunakan atas anjuran dokter. Untuk mengatasi konstipasi, individu lebih dianjurkan untuk secara rutin berolahraga, cukup minum, dan mengonsumsi makanan yang tinggi serat.

diare

Penyebab
Hal ini dapat terjadi karena keracunan makanan, adanya infeksi kuman, stress pikiran, dan banyak faktor lain. Penyakit ini biasanya sembuh sendiri karena sebenarnya diare sendiri adalah mekanisme tubuh untuk membuang racun dan kuman yang ada di usus. Pada anak kecil, penyebab diare terbanyak adalah karena virus sehingga memang dapat sembuh dengan sendirinya. Tetapi karena banyaknya cairan tubuh yang terbuang, pasien harus minum banyak cairan dan obat anti-diare apabila penyakit ini sudah mengganggu aktivitas sehari-hari. Untuk kasus diare berkepanjangan (lebih dari 2 minggu) kemungkinan ada penyakit lainnya yang mendasari, misalnya HIV/AIDS, kanker daerah saluran pencernaan.
Gejala
Perlu diperhatikan ketika diare menjadi bertambah parah.
Adanya tanda dehidrasi seperti pipis kental dan kuning, frekuensi berkemih kurang dari 4 kali per hari, demam, mata cekung, kulit kering. Pada anak-anak ciri dehidrasi adalah: menangis tetapi tidak keluar air mata, anak rewel (pada dehidrasi sedang) atau justru lemas (pada anak dehidrasi berat), ingin banyak minum (pada dehidrasi sedang) atau bahkan malah malas minum (pada dehidrasi berat)
  • Diare tetap bertahan di atas 2 minggu
  • Kram
  • Sakit perut
  • Kembung
  • Mual
  • Demam
  • Muntah
  • Diare biasanya hilang pada sendiri dalam waktu 48 jam yang tanpa obat. Hal yang paling penting yang dapat dilakukan adalah untuk tetap terhidrasi sementara diare berjalan saja apa adanya dan menghindari makanan yang akan membuat diare menjadi lebih banyak seperti makan-makanan pedas, makanan yang berserat
Diare dianggap parah ketika:
  • Berlangsung di atas 2 minggu
  • Keram perut yang parah atau sakit pada dubur
  • Darah dalam tinja
  • Tinja berwarna hitam
  • Adanya demam
  • Adanya tanda-tanda dehidrasi
Gejala penyakit ini dapat merupakan tanda-tanda kondisi seperti infeksi, penyakit iritasi usus, pankreatitis, kanker usus, atau penurunan kondisi kekebalan tubuh misalnya pada pasien HIV/AIDS.
Pengobatan
Atasi dehidrasi dengan oralit atau banyak minum air putih dalam jumlah banyak. Jika diikuti mual dan muntah, minuman tentu tidak dapat masuk, padahal asupan air (hidrasi) sangat penting untuk mencegah dehidrasi. Maka, segera berobat ke dokter agar diberikan cairan intravena (infus).
Selain itu, terdapat beberapa jenis pengobatan antara lain:
  • Obat untuk mengikat air sehingga tinja lebih padat, seperti obat attalpulgit
  • Obat untuk menghentikan peristaltik usus seperti papaverin atau antiparasimpatik
  • Antibiotik atau antiparasit ketika didapatkan hasil pemeriksaan tinja berupa adanya infeksi bakteri atau infeksi parasit seperti amoeba (dr. Ursula)


Read more:http://doktersehat.com/diare/#ixzz4vALfxIyb

hepatitis


Banyaknya jenis hepatitis, membuat penanganan penyakit hepatitis juga berbeda antara satu dengan yang lainnya. Karena memerlukan upaya pencegahan dan pengobatan yang berbeda, diperlukan pemahaman yang baik bagi mereka yang menderita hepatitis, maupun tim medis yang menjadi penanggungjawab kesembuhan setiap pasien penderita hepatitis.
Untuk memperjelas perbedaan pencegahan hepatitis tersebut, artikel ini akan menjelaskan proses pencegahan terhadap tiga jenis hepatitis yakni hepatitis A, B, dan C.

Pencegahan Penyakit Hepatitis A

Pada dasarnya, penyakit hepatitis ini bisa menyerang siapapun dan tidak memandang faktor usia maupun jenis kelamin. Penyakit hepatitis Aini biasanya cukup banyak menyerang anak-anak dan remaja.
Pencegahan bagi mereka yang terkena hepatitis di usia antara 1-18 tahun bisa dilakukan dengan memberikan vaksinasi dengan dosis 2-3 tetes sesuai dengan standar pengobatan yang telah ditentukan.
Sedangkan pemberian vaksin untuk orang dewasa harus lebih besar dosisnya dan waktunya juga panjang yakni antara 6-12 bulan, yang dihitung setelah dosis pertamanya.
Pemberian vaksinasi tersebut merupakan upaya pencegahan hepatitis yang paling efektif dan dapat bertahan antara 15-20 tahun. Pemberian vaksinasi virus hepatitis A akan lebih baik diberikan kepada mereka yang dianggap memiliki kecenderungan besar terkena hepatitis A yakni: pengguna obat-obatan terlarang, balita atau anak-anak yang tinggal dalam lingkungan kotor, pelaku oral seks, orang yang menderita penyakit liver kronis, dan lainnya.
Upaya pencegahan hepatitis juga bisa dilakukan dengan senantiasa menjaga kebersihan, baik di dalam rumah maupun di lingkungan lain, agar terhindar bukan hanya virus hepatitis A, tetapi juga virus penyebab penyakit-penyakit yang lainnya.
Untuk Anda yang sering melakukan perjalanan ke luar negeri dengan lingkungan yang buruk, seperti di negara-negara Afrika, maka sebaiknya melakukan vaksinasi untuk mencegah masuknya virus hepatitis A ke dalam tubuh. Vaksinasi dapat dilakukan 2 bulan sebelum Anda berangkat.

Pencegahan Penyakit Hepatitis B

Tidak jauh berbeda dengan hepatitis A, diperlukan pemberian vaksin untuk melindungi diri dari serangan hepatitis B. Pemberian vaksinasi sangat optimal, terutama bagi mereka yang memiliki kecenderungan akan mengidap hepatitis B. Vaksinasi hepatitis B dapat melindungi Anda kurang lebih selama 15 tahun.
Mereka yang terutama harus mendapatkan perhatian lebih untuk vaksinasi pencegahan hepatitis B ini, adalah mereka yang memiliki aktifitas seksual aktif, orang-orang yang bekerja dalam menangani atau berkaitan dengan darah, seperti pendonor atau pekerja laboratorium.
Selain itu, mereka yang rentan terkena penyakit hepatitis B seperti pengguna obat-obatan terlarang juga sebaiknya diberikan penyuluhan untuk mendapatkan suntikan vaksinasi hepatitis B ini.

Pencegahan Penyakit Hepatitis C

Sebenarnya, belum ada vaksin yang secara khusus diperuntukkan untuk mencegah tertularnya hepatitis C ini. Namun, upaya pencegahan tetap harus dilakukan, setidaknya untuk meminimalisir seseorang mengidap penyakit hepatitis C ini.
Vaksinasi seperti yang diberikan kepada pasien yang menderita hepatitis B juga termasuk langkah yang baik karena peranan vaksin memang cukup ampuh dalam mencegah masuknya virus ke dalam tubuh.
Selain itu, pencegahan juga dapat dilakukan dengan menjaga kebersihan lingkungan karena virus apapun akan berkembang biak di lingkungan yang kotor dan jorok.

mag


eenjoyyyy okeyy dengan artikel inii๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š
Penyebab dan Cara Mengatasi Penyakit Maag
Penyakit Maag atau gastritis merupakan penyakit yang terjadi pada gangguan lambung. Tingkatnya asam lambung dalam waktu yang lama akan beresiko Penyebab Penyakit Maag terjadi pada radang lambung atau tukak lambung sehingga penderita akan mengalami rasa sakit pada lambung dan hulu hati yang biasanya disertai rasa mulas dan perih.

Nyeri dan Perih datangnya tiba-tiba dan langsung spontan hilang. Batu empedu atau batu ginjal yang menyebabkan penyakit tersebut berhenti tiba-tiba.

Sakit maag ini sering ditemukan di masyarakat, hal ini terjadi karena cendrungnya salah mengatur waktu dan pola makan yang benar. 

Adapun Penyebab dari Penyakit Maag adalah sebagai berikut:
  1. Makanan Goreng
    Sebagian besar makanan yang mengandung minyak sangat tinggi sekali lemak yang terkandung. Untuk itu, penyakit maag bisa saja muncul bagi seseorang yang sering mengkosumsi gorengan. 
     
  2. Makan Tidak Teratur
    Jika anda selama ini makan selalu siang dan tanpa sarapan, atau juga sering makan 1 kali sehari atau menunggu waktunya lapar dapat menyebabkan penyakit ini datang.

  3. Kafein
    Kafein seperti kita ketahui bisa menenangkan, tapi jika terlalu sering mengkosumsi tanpa makan nasi, maka perut biasanya akan berbunyi seperti kelaparan.

Selain dari makanan di atas, ada beberapa lagi salah satunya penyebab maag.
  • Stres
  • Kelelehan
  • Kurang tidur
  • Merokok
 Penyakit maag bisa datang pada saat penderita tidak tepat waktu makan. Beberapa obat maag banyak bisa anda jadikan pereda maag, tapi inti dari obat ini adalah untuk menetralisir asam lambung sehingga tidak terjadi penumpukan asam lambung pada dinding lambung.

Obat yang bisa jadi Cara Mengatasi Penyakit Maag adalah sebagai berikut:
  • Simetidin
  • Antasida
  • Proton pump inhibitor
  • Pankreatin
  • Ranitidin
  • Cytoprotective Agent

Jika anda tidak punya uang terlalu berlebihan dan masih ingin menggunakan obat alami. Silakan baca berikut ini caranya.


Cara Pertama
  1. Siapkan 2 jari tangan kunyit lalu cuci dengan bersih
  2. Kunyit diparut dan ditambah air matang
  3. Diperas menggunakan kain bersih
  4. Hasil perasan didiamkan dan ambil air beningya, atau juga bisa anda minum langsung.
  5. Minumlah 2 kali sehari yaitu pagi sebelum makan dan malam sebelum tidur.

Cara Kedua
  1. Ambil 8 lembar daun jabu biji yang masih segar
  2. Lalu rebus dengan 1,5 liter air sampai mendidih, kemudian saring ambil airnya.
  3. Dimiun 3 kali sehari, yaitu pagi, siang, dan sore hari.

Cara Ketiga
  1. Siapkan kunyit 2 jari telunjuk atau sesuai dengan kebutuhan yang akan anda minum
  2. Lalu diparut kunyit tersebut.
  3. Direbus dengan air 2 gelas hingga tersisa 1 gelas atau sesuaikan dengan kebutuhan dengan perbandingan 2:1
  4. Lalu disaring dan dinginkan air kunyit yang sudah di rebus tadi.
  5. Minum 2 kali sehari yaitu pagi sebelum makan dan malam sebelum tidur.
  6. Tapi, jika anda punya madu. Sebaiknya tambah madu untuk tambah hasil yang lebih baik.
Bila obat di atas tidak berefek pada Penyakit Maag anda, silakan anda kunjungi dokter untuk mengetahui masalah maag anda lebih jelansya, Penyebab dan Cara Mengatasi Penyakit Maag sudah kami bahas di atas, dan perlu diketahui bahwa maag tidak bisa sembuh total. Jadi, hindarilah masalah-masalah yang bisa menyebabkan penyakit mag datang.


Sumber: http://kesehatan96.blogspot.com/2013/04/penyebab-dan-cara-mengatasi-penyakit.html#ixzz4vAG3ORj3

karies gigi


Karies gigi adalah sebuah penyakit infeksi yang merusak struktur gigi.[1] Penyakit ini menyebabkan gigi berlubang. Jika tidak ditangani, penyakit ini dapat menyebabkan nyeri, penanggalan gigi, infeksi, berbagai kasus berbahaya, dan bahkan kematian. Penyakit ini telah dikenal sejak masa lalu, berbagai bukti telah menunjukkan bahwa penyakit ini telah dikenal sejak zaman perungguzaman besi, dan zaman pertengahan.[2] Peningkatan prevalensi karies banyak dipengaruhi perubahan dari pola makan.[2][3] Kini, karies gigi telah menjadi penyakit yang tersebar di seluruh dunia.
Ada beberapa cara untuk mengelompokkan karies gigi.[4] Walaupun apa yang terlihat dapat berbeda, faktor-faktor risiko dan perkembangan karies hampir serupa. Mula-mula, lokasi terjadinya karies dapat tampak seperti daerah berkapur namun berkembang menjad lubang coklat. Walaupun karies mungkin dapat saja dilihat dengan mata telanjang, kadang-kadang diperlukan bantuan radiografi untuk mengamati daerah-daerah pada gigi dan menetapkan seberapa jauh penyakit itu merusak gigi.
Lubang gigi disebabkan oleh beberapa tipe dari bakteri penghasil asam yang dapat merusak karena reaksi fermentasi karbohidrat termasuk sukrosafruktosa, dan glukosa.[5][6][7] Asam yang diproduksi tersebut memengaruhi mineral gigi sehingga menjadi sensitif pada pH rendah. Sebuah gigi akan mengalami demineralisasi dan remineralisasi. Ketika pH turun menjadi di bawah 5,5, proses demineralisasi menjadi lebih cepat dari remineralisasi. Hal ini menyebabkan lebih banyak mineral gigi yang luluh dan membuat lubang pada gigi.
Bergantung pada seberapa besarnya tingkat kerusakan gigi, sebuah perawatan dapat dilakukan. Perawatan dapat berupa penyembuhan gigi untuk mengembalikan bentuk, fungsi, dan estetika. Walaupun demikian, belum diketahui cara untuk meregenerasi secara besar-besaran struktur gigi, sehingga organisasi kesehatan gigi terus menjalankan penyuluhan untuk mencegah kerusakan gigi, misalnya dengan menjaga kesehatan gigi dan makanan.[8]
Toothdecay.pngBukti arkeologis menunjukkan bahwa karies gigi sudah ada sejak masa prasejarah. Sebuah tengkorak yang diperkirakan berasal dari satu juta tahun yang lalu dari masa neolitikum memberi petunjuk adanya karies.[2] Adanya peningkatan prevalensi karies sejak masa neolitikum mungkin disebabkan banyaknya konsumsi makanan dari tumbuhan yang banyak mengandung karbohidrat.[9] Sebuah gurdi atau bor dari kayu ditemukan pada masa neolitikum. gurdi tersebut diperkirakan digunakan sebagai pelubang gigi untuk mengeluarkan abses dari gigi.[10] Perubahan kebudayaan berupa penemuan teknik pertanian di Asia Selatan dipercayai juga sebagai salah satu peningkat prevalensi karies.
Sebuah teks dari Sumeria (5000 SM) menggambarkan sebuah "cacing gigi" sebagai penyebab karies.[11] Bukti pada kepercayaan ini juga ditemukan pada IndiaMesirJepang, dan Tiongkok.[3]
Banyak fosil tengkorak yang dapat menunjukkan adanya perawatan gigi yang primitif. Di Pakistan, sebuah gigi yang diperkirakan berasal dari 5500 SM hingga 7000 SMmenunjukkan sebuah lubang yang mungkin disebabkan gurdi gigi.[12] Karies juga dituliskan oleh Homer dan Guy de Chauliac dalam tulisan mereka.[3] Papirus Ebers, sebuah tulisan Mesir kuno (1550 SM) menyebutkan sebuah penyakit gigi.[11] Selama pemerintahan dinasti Sargonid Assyria pada 668 SM hingga 626 SM, dituliskan bahwa dokter kerajaan memerlukan tindakan pencabutan gigi untuk mencegah penyebaran radang.[3] Selama masa pendudukan Bangsa Romawi di Eropa, proses pemasakan makanan menurunkan tingkat terjadinya karies.[13] Pada masa peradaban Yunani dan Romawi dan Mesir, memiliki perawatan untuk meredakan rasa nyeri karena karies.[3]
Tingkat kejadian karies menurun pada zaman perunggu dan besi, namun meningkat tajam pada zaman pertengahan.[2] Peningkatan prevalensi karies secara periodik ini serupa dengan kejadian pada masa tahun 1000, ketika gula menjadi lebih mudah didapatkan di dunia Barat. Perawatan yang diberikan berupa obat-obatan herbal dan jampi-jampi, serta pencabutan gigi.[3][14] Umat Katolik menyampaikan doa dengan penyertaan Santo Appolonia, santo pelindung untuk dokter gigi.[15]
Ada pula bukti yang menunjukkan adanya peningkatan tingkat karies di suku IndianAmerika Utara setelah memulai kontak dengan kolonial Eropa. Sebelum kolonisasi, Indian Amerika Utara menggantungkan hidupnya pada berburu, kemudian berubah menjadi bertani jagung. Pergantian diet makan ini menyebabkan peningkatan karies.[2]
Pada masa pencerahan, kepercayaan bahwa "cacing gigi" sebagai penyebab karies ditepis oleh kelompok ilmuwan kedokteran.[16] Pierre Fauchard, yang dikenal sebagai bapak kedokteran gigi masa kini, adalah salah satu pihak pertama yang menolak ide cacing gigi tersebut. Ia menyebutkan bahwa konsumsi gula yang menjadi penyebab karies gigi.[17] Pada tahun 1850, prevalensi karies meningkat lagi dan disebabkan oleh pergeseran pola makan.[3]
Pada 1890-an, W.D. Miller memulai rangkaian penelitian untuk menyelidiki perihal penyakit karies gigi. Ia menemukan bahwa ada bakteri yang hidup di rongga mulut dan mengeluarkan asam sehingga melarutkan struktur gigi ketika terdapat sisi karbohidrat.[18] Penjelasan ini dikenal sebagai teori karies kemoparasitik.[19] Penemuan Miller, bersamaan penelitian terhadap plak gigi oleh G.V. Black dan J.L. Williams, membuat sebuah dasar sebagai penjelasan patofisiologi karies yang diterima hingga kini.[3]

obesitas


ENJOY๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š
Tiga siluet gambar yang menunjukkan garis tubuh orang berukuran normal (kiri), kelebihan berat (tengah), dan gemuk (kanan).
Kegemukan atau obesitas adalah suatu kondisi medis berupa kelebihan lemak tubuh yang terakumulasi sedemikian rupa sehingga menimbulkan dampak merugikan bagi kesehatan, yang kemudian menurunkan harapan hidup dan/atau meningkatkan masalah kesehatan.[1][2] Seseorang dianggap menderita kegemukan (obese) bila indeks massa tubuh (IMT), yaitu ukuran yang diperoleh dari hasil pembagian berat badan dalam kilogram dengan kuadrat tinggi badan dalam meter, lebih dari 30 kg/m2.[3]
Kegemukan meningkatkan peluang terjadinya berbagai macam penyakit, khususnya penyakit jantungdiabetes tipe 2apnea tidur obstruktifkanker tertentu, osteoartritis[2]dan asma[2][4][5]. Kegemukan sangat sering disebabkan oleh kombinasi antara asupan energi makanan yang berlebihan, kurangnya aktivitas fisik, dan kerentanan genetik, meskipun sebagian kecil kasus terutama disebabkan oleh gen, gangguan endokrinobat-obatan atau penyakit psikiatri. Hanya sedikit bukti yang mendukung pandangan bahwa orang yang gemuk makan sedikit namun berat badannya bertambah karena metabolisme tubuh yang lambat; rata-rata orang gemuk mengeluarkan energi yang lebih besar dibandingkan orang yang kurus karena dibutuhkan energi untuk manjaga massa tubuh yang lebih besar.[6][7]
Pengaturan diet dan aktivitas fisik masih menjadi tata laksana utama kegemukan. Kualitas asupan dapat diperbaiki dengan mengurangi konsumsi makanan padat energi contohnya makanan yang tinggi lemak dan gula, serta dengan meningkatkan asupan seratObat-obatan anti-kegemukan dapat dikonsumsi untuk mengurangi selera makan atau menghambat penyerapan lemak, disertai dengan asupan diet yang tepat. Apabila diet, olahraga, dan obat-obatan belum efektif, maka balon lambung dapat membantu mengurangi berat badan, atau operasi dapat dilakukan untuk mengurangi volume lambung dan/atau panjang usus sehingga dapat memberikan rasa kenyang yang lebih dini dan menurunkan kemampuan penyerapan nutrisi dari makanan.[8][9]
Kegemukan adalah penyebab kematian yang dapat dicegah paling utama di dunia, dengan prevalensi pada orang dewasa dan anak yang semakin meningkat, sehingga pihak berwenang menganggap kegemukan sebagai salah satu masalah kesehatan masyarakat paling serius pada abad 21.[10] Kegemukan umumnya merupakan stigma di dunia modern (khususnya di Dunia barat), meskipun pada suatu waktu dalam sejarah, kegemukan secara luas dianggap sebagai simbol kekayaan dan kesuburan, dan masih dianggap demikian di beberapa bagian di dunia hingga sekarang.[2][11]
Pada tahun 2013, orang dengan kegemukan di dunia berjumlah 2,1 miliar dan Indonesia masuk urutan 10 besar dengan orang kegemukan berjumlah 40 juta orang atau setara seluruh penduduk Jawa Barat. Tidak seperti halnya di negara maju yang gemuk kebanyakan adalah laki-laki, maka di Indonesia yang gemuk kebanyakan adalah perempuan.[12]

https://id.wikipedia.org/wiki/Kegemukan